Ramadan #2: Pada Hal-Hal Yang Bukan Milik Kita

Siapakah yang boleh menipu dengan mengatakan dirinya tidak pernah memandang apa yang orang lain ada, lalu memandang diri sendiri dengan segenap kepunyaan yang dimiliki? Kita semua mesti pernah, bukan? Sering juga kita berkata, oh seronoklah ada benda itu, bestnya ini. Untunglah si fulan sekian dan sekian.

Pendek kata, apa yang kita tidak miliki, tidak jarang tidak indah dimata kita. Ada waktu, hati kecil terusik untuk memiliki apa yang orang lain miliki. Dengan menyangka, bahawa sekiranya kita memiliki itu dan ini, pasti kita sangat gembira dan menjadi bersyukur. Dan tidak sedikit pula yang berlaku, Allah Taala memakbulkan keinginan kita itu tanpa sedar, antara cepat atau sedikit lambat. Waktu itu, mungkin rasa syukur akan memenuhi segenap jiwa kita. Akhirnya, hal-hal yang hanya kita dapat lihat suatu masa dahulu, kini menjadi hal yang menjadi milik kita dan kita merasa pengalamannya.

Persoalannya, sejauh mana rasa syukur kita tadi itu dapat kita pertahankan atau perpanjangkan?
Apakah jaminan kita terhadap diri sendiir bahawa rasa syukur itu akan selalu mekar dalam jiwa?

‘Oh Ya Allah, aku selalu bersyukur atas pemberian-Mu.’

Tapi dalam masa yang sama, kita selalu mendamba sesuatu yang bukan milik kita. Hati kecil kita selalu terusik dengan apa yang kita tidak miliki. Kita manusia, kan? Kita mesti punya perasaan begitu. Tapi, apakah kayu ukur kita untuk menjadi seorang manusia yang bersyukur? Adakah kita hanya akan bersyukur apabila apa yang kita damba-dambakan itu ada di genggaman kita? Atau adakah kita pasti bahawa semua apa yang kita inginkan, dari sekecil-kecil perkara sehingga ke sebesar-besar perkara apabila Allah Taala tunaikan nanti, kita akan sentiasa menjadi seseorang yang selalu bersyukur dan memberi dalam hidup? Bukankah keinginan seorang manusia itu akan selalu tidak puas?

Jadi apa jaminan kita terhadap diri kita sendiri untuk sebuah rasa syukur itu?

Leave a Reply

Your email address will not be published.